Minggu, 19 Mei 2013

Anak zaman sekarang rusak

Anak zaman skr ini sungguh di sayangkan sudah rusak. Sy sedang berada di tempat makanan siap saji , dan di depan saya ada anak2 CEWE SMA yg labil dan mereka semua ngerokok dengan gayanya yg tengil !
Miris, bagaimana perasaan ibu bapak mereka ya?

posted from Bloggeroid

Kamis, 16 Mei 2013

Forever alone at campus


Gini nih nasib mahasiswi sambil kerja. Pas UAS, sendirian :(

posted from Bloggeroid

Senin, 13 Mei 2013

Asyiknya jadi backpaker

Bila diartikan secara harfiah, 'backpacking' hanya akan berarti berkegiatan sambil membawa backpack atu ransel. Jika cuma demikian, maka anak-anak SD yang berangkat dan pulang sekolah dengan membawa ransel juga bisa disebut melakukan bckpacking.
Namun backpacking dalam konteks wisata tidaklah berarti sebatas kegiatannya saja. Backpacking disini sudah berarti: gaya hidup, atau cara spesifik seseorang dalam melakukan perjalanan wisatanya yang berujung pada tercapainya kepuasan batin.

Sesungguhnya seperti halnya bentuk berwisata yang lain, apa pun yang dilihat, didengar, dan dinikmati dalam melakukan backpacking akan sama saja. Namun sensasi dan apa yang akan menjadi kenangan bisa jadi lain. Dalam backpacking, kita akan bertemu dengan lebih banyak orang, berbicara, mengenal, bahkan menyelami cara hidup dan tradisi mereka, Inilah satu-satunya cara untuk lebih mengenal tempat tujuan wisata kita.

Tidak hanya dengan penduduk lokal. Pertemanan sering kali bermula dari acara backpacking. Bahkan bila kita berangkat dari rumah seorang diri pun, di perjalanan pasti akan ada seseorang yang setujuan dengan kita, dan segera, kita akan tergabung dalam sebuah kelompok pertemanan setujuan dari berbagai macam latar belakang budaya.
Bukan cuma dengan mereka yang setujuan saja, sesungguhnya. Setiap backpacker yang kita temui dalam perjalanan adalah teman. Mereka sangat akan menjadi sumber informasi terbaik mengenai apa saja yang ada di tempat tujuan kita.

Ya. Dunia backpacking adalah dunia dimana para pelakukanya akan melihat sebuah tempat lebih dekat, menghirup udaranya lebih, melakukan kegiatan lebih bervariasi - pendek kata: larut dalam kehidupan di tempat tersebut.
Itu semua bisa terjadi lantaran dua komponen berwisata yang tak disediakan oleh turisme konvensional, yaitu: lebih banyak waktu, dan lebih sedikit uang. Maka kombinasikanlah 2 hal itu sebaik-baiknya. Nikmati perjalanan Anda, dan alangkah indanya bila Anda juga bisa meninggalkan sesuatu yang dapat mempermudah teman-teman backpacker yang akan mengikuti jejak langkah anda.

posted from Bloggeroid

Backpaker


DEFINISI SINGKAT DAN SEJARAH TENTANG BACKPACKER

Backpacker adalah istilah yang secara historis telah digunakan untuk menunjukkan suatu bentuk murah, perjalanan nasional/internasional independen. Ketentuan seperti perjalanan independen dan/atau anggaran perjalanan sering digunakan bergantian dengan backpacker. Faktor-faktor yang secara tradisional membedakan Backpacker dari bentuk pariwisata lain tetapi tidak terbatas pada hal berikut: penggunaan angkutan umum sebagai sarana perjalanan, preferensi penginapan sampai hotel tradisional, lama perjalanan liburan vs konvensional, penggunaan ransel, suatu kepentingan dalam rapat lokal, dan juga melihat pemandangan/wisata.

Definisi backpacker telah berevolusi sebagai wisatawan dari berbagai budaya dan wilayah berpartisipasi dan akan terus berkembang, mencegah definisi baku. Penelitian terakhir telah menemukan bahwa, "... Backpackers merupakan kelompok heterogen terhadap keragaman Alasan dan makna yang melekat dengan pengalaman perjalanan mereka. ... Mereka juga ditampilkan sebuah komitmen bersama untuk suatu bentuk non-institusional perjalanan, yang pusat identifikasi diri mereka sebagai Backpackers. " Backpacker sebagai gaya hidup dan sebagai sebuah bisnis telah berkembang cukup dalam (era tahun 2000-an) sebagai biasa dari maskapai penerbangan bertarif rendah, hotel atau akomodasi anggaran di banyak bagian dunia, dan komunikasi digital dan sumber daya membuat perencanaan, pelaksanaan, dan melanjutkan perjalanan Backpacking jangka panjang lebih mudah dibandingkan sebelumnya.

Sejarah BACKPACKER

Meskipun tidak ada jawaban pasti mengenai asal tepat Backpacker, akar-akarnya dapat dilacak, setidaknya sebagian, ke jalur Hippie tahun 1960-an, dan 70 yang kemudian diikuti bagian-bagian dari Jalan Sutera tua. Bahkan, beberapa Backpackers hari ini mencari untuk menciptakan kembali perjalanan yang, meskipun dengan cara yang lebih nyaman, sementara memanfaatkan popularitas saat ini gerakan hijau. Melihat jauh ke dalam sejarah, Giovanni Francesco Gemelli Careri telah dikutip oleh beberapa sebagai salah satu Backpackers pertama di dunia.

Sementara perjalanan sepanjang Trail Hippie tua telah diberikan rumit sejak awal tahun 80-an akibat kerusuhan di Afghanistan, Irak dan Iran yang terus berlangsung sampai sekarang, backpacking telah diperluas untuk sebagian besar wilayah di dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan anggaran dan maskapai penerbangan biaya rendah telah memberikan kontribusi untuk ekspansi ini. Pada saat ini, baru "jejak hippie" sedang dibentuk terhadap Afrika Utara di tempat-tempat seperti Maroko dan Tunisia, dan tujuan lain yang dicapai oleh penerbangan murah.

Perubahan teknologi dan perbaikan juga memberikan kontribusi terhadap perubahan Backpacking. Backpackers tradisional tidak bepergian dengan peralatan elektronik mahal seperti komputer laptop, kamera digital dan PDA karena kekhawatiran tentang pencurian, kerusakan, dan berat bagasi tambahan. Namun, keinginan untuk tetap terhubung digabungkan dengan tren dalam elektronik ringan telah memunculkan trend flashpacking, yang telah dalam keadaan evolusi terus menerus dalam beberapa tahun terakhir. Simultan dengan perubahan pada "apa" mereka bawa, Backpacking juga menjadi kurang dan kurang bergantung pada ransel fisik dalam bentuk awal meskipun ransel masih dapat dianggap sebagai bagasi utama Backpackers.

BACKPACKERS


Backpacking is a form of low-cost, independent international travel. It includes the use of a backpack or other luggage that is easily carried for long distances or long periods of time; the use of public transport; inexpensive lodging such as youth hostels; a longer duration to the trip when compared with conventional vacations; and an interest in meeting the locals as well as seeing the sights. It is typically associated with young adults, who generally have fewer obligations and thus more time to travel. They also have less money to spend on hotels or private vehicles. It may include wilderness adventuresor be limited to travel within settled areas.
The definition of a backpacker has evolved as travelers from different cultures and regions participate. A 2007 paper said "backpackers constituted a heterogeneous group with respect to the diversity of rationales and meanings attached to their travel experiences. They also displayed a common commitment to a non-institutionalised form of travel, which was central to their self-identification as backpackers."Backpacking as a lifestyle and as a business has grown considerably in the 2000s as a result of low-cost airlines and hostels or budget accommodations in many parts of the world
History
While people have traveled for all history with their possessions in packs they carry on their backs, the concept of modern backpacking can be traced, at least partially, to the Hippie trailof the 1960s and '70s,which in turn followed sections of the old Silk Road. In fact, some backpackers today seek to recreate that journey, albeit in a more comfortable manner.Seventeenth-century Italian adventurer Giovanni Francesco Gemelli Careri has been cited by some authorities as one of the world's first backpackers.
Technological developments and improvements have also contributed to changes in backpacking. Traditionally backpackers did not travel with expensive electronic equipment like laptop computers, digital cameras, and PDAs because of concerns about theft, damage, and additional luggage weight. However, the desire to stay connected, coupled with breakthroughs in lightweight electronics, has given rise to the flashpacking trend.And not only is there a shift in what backpackers carry now, there is also a change in what they use to carry that gear: backpacking is becoming less and less reliant on the physical backpack in its initial form.
Culture
Of importance in backpacking is a sense of authenticity. Backpacking is perceived as being more than a vacation, but a means of education.Backpackers want to experience the "real" destination rather than the packaged version often associated with mass tourism, which has led to the assertion that backpackers are anti-tourist For many young people in Northern Europe, Australia, New Zealand, and Israel, backpacking is often a rite of passage. It is less common among North Americans, particularly when taking into account the large population demographics, but it is also gradually becoming more popular. Backpacking trips were traditionally undertaken either in a "gap year" between High School and University, or between the latter and the commencement of work. However the average age of backpackers has gradually increased over time, and it is not uncommon to meet travelers in their late 20s or 30s on an extended career break. Popular regions for backpacking tend to vary from country to country
Criticism
Backpacking has been criticized, with some criticism dating back to travelers' behavior along the Hippie Trail. For example, the host countries and other travelers may disagree with the actions of backpackers. However, the perception of backpackers seems to have improved as backpacking has become more mainstream.Another criticism is that even though one of the primary aims of backpacking is to seek the "authentic," the majority of backpackers spend most of their time interacting with other backpackers, and interactions with locals are of "secondary importance
Planning and Research
Planning and research is an important part of backpacking, aided by such publications as the Lonely Planet guides, Rough Guidesand others. These books provide information about such topics as the language, culture, food and history of a given country. They also offer listings of accommodation and places to eat, together with maps of key locations. Digital format guidebooks are becoming more popular, especially since the advent of smart phones and lightweight netbooks and laptops. There are also many online resources aimed at backpackers as well

Variants

Flashpacking 

Flashpacking is a neologism, a combination of flash, as in fancy, with backpacking, used to refer to an affluent backpacker. Flashpacking has an association of more disposable income while traveling and has been defined simply as backpacking with a bigger budget

Poshpacking 

Poshpacking, a portmanteau of posh and backpacking, refers to backpacking with more style and money





Semua Tentang Backpaker


Backpack, atau tas punggung, atau lebih umum lagi disebut sebagai ‘ransel’, dengan berbagai bentuknya dewasa ini memang semakin umum digunakan oleh para pelancong di seluruh dunia. Awalnya mungkn hanya untuk kepraktisan saja, lantaran dengan menggunakan backpack sebagai tempat barang-barang bawaan kita, kedua tangan kita akan bebas bergerak. Bayangkan jika kita harus berjalan-jalan di tengah keramaian Malioboro, atau menyusuri gang-gang di Kuta dengan menenteng tas jinjing.
Bahkan jika disbanding dengan tas bahu (tas yang dicangklongkan di salah satu bahu), backpack jauh terasa lebih nyaman; dengan backpack, beban barang bawaan yang kita sandang di bahu akan lebih merata.
Mungkin satu-satunya yang bisa menyaingi kepraktisan dan kenyamanan backpack mungkin hanya tas pinggang (bum bag). Tapi masalahnya, kapasitas tas pnggang memang amat terbatas – rata-rata kurang dari lima belas liter volume. Bandingkan dengan backpack yang bisa berkapasitas sampai seratus liter.
Backpack mulanya memang bagian dari perlengkapan mendaki gunung, camping, atau kegiatan alam bebas lain. Namun sejak menjamurnya para pelancong dengan gaya hidup hipis, backpack jadi popular di kalangan para earth walker yang bepergian semau mereka, tanpa terikat waktu dan jadwal sebagaimana lazimnya pelancong yang bepergian menggunakan jasa biro perjalanan wisata. Itulah kenapa sempat muncul anggapan bahwa para turis ransel (backpacker) sama dengan hipis, dan hipis identik dengan turis ransel: Pelancong bebas berpenampilan lusuh yang bepergian semau mereka dengan dana minim dan waktu selama mungkin. Faktanya memang demikian.
Syukurlah anggapan dan fakta di atas sudah semakin pudar. Saat ini backpacking alias turisme ransel sudah menjadi cara berwisata yang tak lagi didominasi para pelancong berkatong tipis, namun juga dari kalangan mapan yang ingin merasakan bebasnya berwisata tanpa terikat jadwal dan aturan biro perjalanan.
Semangat backpacking memang masih sama. Bedanya, kini semangat kebebasan berwisata itu sekarang didukung oleh dana lebih tebal dan penampilan para pelakunya yang jauh lebih modis.
Demikian pula dengan backpack sebagai elemen utama dalam turisme ransel alias backpacking. Kalo jaman backpacker hipis mereka biasanya menggunakan backpack surplus Perang Vietnam, Korea, bahkan Perang Dunia II yang terbuat dari kanvas yang berat, kini backpack para turis ransel jauh terlihat lebih trendi. Terbuat dari nilon berwarna-warni dengan daya tahan tnggi namun ringan, ditambah dengan desain ergonomis berteknologi tinggi yang sanggup mereduksi beban berat yang dirasakan penggunanya. Bisa demikian karena mayoritas backpack yang digunakan para backpacker sejatinya memang diperuntukkan buat mendaki gunung atau menjelajah alam bermedan berat – kendati kurang lebih dua dasawarsa terakhir backpack yang dirancang khusus untuk traveling juga sudah diciptakan. Dengan teknologi yang teknologi, bahan dan model yang tak kalah canggih, kuat, dan trendi pula.
Berikut ini adalah beberapa macam backpack yang lazim digunakan dalam kegiatan backpacking:
Trekking/Tramping/Adventure Pack
Sejatinya didesain untuk kegiatan petualangan (mendaki gunung, lintas alam). Modelnya memang paling umum. Backpacker suka menggunakannya karena kepraktisan dan kenyamanan saat dipakai, di samping daya tampungnya yang punya rentang lebar (antara 40 s/d 100 liter) membuat semua barang keperluan untuk perjalanan dalam waktu lama bisa terbawa. Pertimbangan lainnya ialah, tak jarang para backpacker juga menyempatkan diri/harus melakukan perjalanan di alam bebas dalam acara backpackingnya. Dengan back-system yang terdiri dari sabuk penggendong dan pinggang berbantalan, serta rangka terbuat dari logam ringan namun kuat berlapis busa dan kain khusus yang diklaim bsa ‘bernapas’, sanggup menolong para penggunanya dari kelelahan akibat membawa beban berat di medan yang berat pula.
Kelemahan dari model backpack ini ialah sisi keamanannya yang boleh dibilang minim saat dibawa berkendaraan umum. Belakangan gembok memang lazim digunakan untuk mengamankan barang-barang berharga yang tersimpan di sejumlah kantong beresluiting. Namun sejumlah straps penutup dan sabuk-sabuknya gampang sekali tersangkut di dalam bagasi pesawat atau bis yang tak jarang berujung dengan kerusakan backpack itu sendiri.
Kelemahan yang kedua, walau tak fatal namun seringkali mengganggu ialah, bentuknya yang hanya berupa menyerupai kantong membuat barang-barang bawaan tak terorganisir dengan baik.

Travel Pack
Inilah backpack yang memang dirancang untuk melancong. Bentuk awalnya memang sangat menggelikan: seperti koper yang dilengkapi dengan sabuk penggendong seperti umumnya backpack. Belakangan, semakin ke sini, bentuk dan teknologi back system sudah semakin baik. Kini banyak produsen yang merancang bentuk travel pack mereka mirip trekking pack, namun dengan jerohan seperti koper yang memungkinkan penggunanya mengorganisir barang bawaan mereka dengan lebih rapih: pakaian tak lagi mudah kusut, tercampur antara yang bersih dengan yang kotor dll.
Demikian pula dengan back systemnya. Teknologi yang digunakan nyaris, bahkan persis sama dengan backpack untuk berpetualang. Ditambah dengan back system yang bisa disembunyikan, membuat sabuk-sabuknya jadi lebih aman saat dibawa berkendaraan umum. Uniknya lagi, saat back system-nya disembunyikan, travel pack akan berubah bentuk menjadi travel shoulder bag. Beberapa travel pack terbaru bahkan diilengkapi roda yang juga bisa disembunyikan untuk kenyamanan saat dibawa di bandara atau stasiun kereta api.
Kelemahan dari jenis backpack ini adalah dengan segala kelebihan dan keunikannya, membuat harganya relatif jadi lebih mahal ketimbang trekking pack. Kira-kira satu decade lalu, para pereview peralatan petualangan memberi penilaian backpack jenis ini tak seberapa cocok dipakai berpetualangan di alam bebas, membawa beban berat, atau berjalan dalam waktu lama. Namun dengan semakin majunya teknologi bahan dan back system, penilaian tersebut jadi tak beralasan.

Kalau ada kontes jenis backpack yang paling popular, pasti backpack alias ransel inilah pemenangnya. Ya. Daypack, seperti namanya memang jenis tas punggung yang biasa dipakai untuk keperluan sehari-hari. Sebagai tempat buku anak sekolah sampai untuk membawa laptop (meski akhir-akhir ini muncul ransel khusus untuk laptop ), digunakan oleh anak-anak TK sampai para pegawai kantor.
Daypack 
Dengan bentuk dan ukuran yang kompak (tak lebih dari 25 liter), tak ada manusia masa kini yang tak memanfaatkan daypack sebagai bagian dari kegiatan sehari-hari mereka. Para backpacker menggunakan daypack saat mereka berkeliling kota atau tempat-tempat wisata. Sementara travel pack/tramping pack ‘beristirahat’ di kamar penginapan, cukuplah daypack sebagai sarana untuk membawa barang-barang keperluan selama melihat-lihat keramaian kota atau menikmati suasana obyek wisata, seperti kamera, buku petunjuk wisata, peta, makanan kecil, bahkan uang saku. Repot juga bukan, kalau harus berkeliling Borobudur, atau berjalan-jalan di sepanjang Pantai Senggi dengan membawa semua barang bawaan kita dalam backpack berukuran 75 liter?
Sebagai jenis backpack yang secara fungsonal tidak spesifik, sulit untuk mencari kelebihan atau kekurangan antara daypack dari satu merek dengan merek yang lain. Apalagi para pengguna juga kelihatannya tak terlalu pilih-pilih dalam membeli backpack jenis ini. Kalaupun ada fitur-fitur yang muncul belakangan di merek-merek terkenal, paling hanya sebatas lubang untuk selang water bladder (kantong air minum) atau kabel headphone – beberapa jenis kadang menambahkan kantong laptop berbantalan. Tak usah terlalu memusingkan back system. Berapa berat sih, beban yang akan kita bawa di dalam backpack?


Hydration Pack
Jenis terakhir sekaligus paling baru yang akhir-akhir ini popular di kalangan backpacker. Saat merasakan daypack terlalu besar untuk sekedar tempat botol air minum dan beberapa benda kecil seperti kunci-kunci dan kamera poket, jenis backpack berpotongan ramping inilah yang jadi pilihan para backpacker sebagai teman berkeliling kota/obyek wisata.
Pertama kali dipopulerkan oleh para tentara yang tak mau repot-repot meletakkan senjata untuk minum dari veldples, mereka cukup menggerakkan satu tangan untuk minum lewat seutas selang dari water bladder di dalam hydration pack. Dengan alasan tak mau berhenti untuk minum dari botol air, para mountain biker dan pelari lintas alam adalah pengguna berikutnya. Apalagi rata-rata hydration pack bisa menampung kantong air berkapasitas dua sampai tiga liter, atau setara nyaris dua kali botol air mineral ukuran paling besar yang dijual di pasaran.


Selain keempat jenis backpack di atas, sebenarnya masih ada beberapa jenis backpack lain. Namun karena fungsinya yang sangat spesifik dan biasanya digunakan oleh para professional di bidangnya masing-masing, jenis-jenis backpack tersebut jarang sekali digunakan oleh kebanyakan backpacker. Jadi saya pun merasa tak perlu mengulasnya lebih jauh. Jenis-jenis backpack tersebut adalah: climbing pack, expedition pack, camera backpack, medical kit pack, dan beberapa jenis untuk membawa peralatan mekanis/pertukangan yang sama sekali tak bersentuhan dengan kegiatan backpacking.

Mengapa Backpaking?


Bila diartikan secara harfiah, 'backpacking' hanya akan berarti berkegiatan sambil membawa backpack atu ransel. Jika cuma demikian, maka anak-anak SD yang berangkat dan pulang sekolah dengan membawa ransel juga bisa disebut melakukan bckpacking.
Namun backpacking dalam konteks wisata tidaklah berarti sebatas kegiatannya saja. Backpacking disini sudah berarti: gaya hidup, atau cara spesifik seseorang dalam melakukan perjalanan wisatanya yang berujung pada tercapainya kepuasan batin.

Sesungguhnya seperti halnya bentuk berwisata yang lain, apa pun yang dilihat, didengar, dan dinikmati dalam melakukan backpacking akan sama saja. Namun sensasi dan apa yang akan menjadi kenangan bisa jadi lain. Dalam backpacking, kita akan bertemu dengan lebih banyak orang, berbicara, mengenal, bahkan menyelami cara hidup dan tradisi mereka, Inilah satu-satunya cara untuk lebih mengenal tempat tujuan wisata kita.

Tidak hanya dengan penduduk lokal. Pertemanan sering kali bermula dari acara backpacking. Bahkan bila kita berangkat dari rumah seorang diri pun, di perjalanan pasti akan ada seseorang yang setujuan dengan kita, dan segera, kita akan tergabung dalam sebuah kelompok pertemanan setujuan dari berbagai macam latar belakang budaya.
Bukan cuma dengan mereka yang setujuan saja, sesungguhnya. Setiap backpacker yang kita temui dalam perjalanan adalah teman. Mereka sangat akan menjadi sumber informasi terbaik mengenai apa saja yang ada di tempat tujuan kita.

Ya. Dunia backpacking adalah dunia dimana para pelakukanya akan melihat sebuah tempat lebih dekat, menghirup udaranya lebih, melakukan kegiatan lebih bervariasi - pendek kata: larut dalam kehidupan di tempat tersebut.
Itu semua bisa terjadi lantaran dua komponen berwisata yang tak disediakan oleh turisme konvensional, yaitu: lebih banyak waktu, dan lebih sedikit uang. Maka kombinasikanlah 2 hal itu sebaik-baiknya. Nikmati perjalanan Anda, dan alangkah indanya bila Anda juga bisa meninggalkan sesuatu yang dapat mempermudah teman-teman backpacker yang akan mengikuti jejak langkah anda.

Backing bawa apa saja?



Membawa sesedikit mungkin barang mungkin ide yang bagus dalam backpacking, walau tentu saja tak sesedikit seperti ika kita keluar dari rumah dengan menyandang daypack, pergi ke toko buku terdekat. Dewasa ini sesungguhnya amatlah mudah untuk menemukan hampir semua barang kebutuhan sehari-hari di kota tujuan wisata kita. Dengan alasan itulah, maka perlu dipertimbangkan ide ‘it’s better to start with too little rather than too much’.
Katakanlah untuk pakaian. Kita akan dengan mudah menemukan pakaian untuk dikenakan sehari-hari di Kuta, atau Jogja, misalnya – dengan harga relatif murah!. Kita bahkan bisa membelinya lebih dari yang kita butuhkan sebagai buah tangan orang-orang di rumah sepulang backpacking nanti. Jadi, mulailah dengan mengisi ransel Anda seringan mungkin.
Barangkali daftar pakaian yang bisa kita bawa dari rumah versi saya, dapat menjadi pertimbangan:
1. Satu celana jeans dan satu celana pendek 
2. Dua atau tiga t-shirt dan kemeja santai
3. Satu sweater untuk menghangatkan badan.
4. Sepasang sepatu olahraga dan sandal.
5. Jas hujan atau jaket berbahan tahan air.
6. Sepasang kemeja dan celana resmi (siapa tahu ada yang mengundang kita kenduri).
Ingat, berpakaian yang pantas, terutama di nagara-negara Asia (termasuk Indonesia) akan akan sangat dihargai. Selain itu, beberapa jenis barang lagi yang saya anggap perlu untuk dibawa al.:
1. Peralatan mandi.
2. Kotak obat dan peralatan jahit-menjahit.
3. Kacamata matahari.
4. Gembok kecil
5. Sleeping bag.
6. Pisau Swiss
7. Kain sarung (dan sajadah, bagi umat Islam)
8. Sebuah payung kecil.
Sleeping bag perlu dibawa jika kita memasukkan acara hiking dan berkemah di alam bebas, atau mendaki gunung. Kita bisa menyewa tenda dan peralatan memasak bila memang membutuhkannya. Disamping itu, sleeping bag juga bisa kita pergunakan sebagai bed-cover di losmen dan tempat penginapan kita, alas untuk beristirahat saat penantian panjang di terminal, stasiun, dan bandara.
Gembok kecil penting untuk mengunci kantong di ransel tempat kita menyimpan barang-barang berharga. Usahakan untuk memilih gembok dengan pengunci bernomor kombinasi. Anak kunci, terlebih yang berukuran kecil, gampang sekali terselip, bahkan hilang. Payung – walaupun kadang kita malu untuk menggunakannya di keramaian – akan sangat berguna di saat-saat tak terduga. Percayalah. Jadi bawa saja yang berukuran kecil, agar bisa muat di dalam backpack kita.
Sabun, pasta gigi, shampoo, bahkan pembalut wanita bisa dibilang sudah bukan masalah lagi. Bahkan di pedalaman Kalimantan, Anda akan bisa menemukannya, walau dengan harga relatif lebih mahal. Mengenai gadget mutakhir tertentu yang sudah jadi bagian dari keseharian kita (HP, MP3 player, kamera digital, dll.) , akan saya tulis dalam posting terpisah.
Ada satu item ayng kelihatannya remeh namun sangat berguna: Kantong-kantong plastik – usahakan yang tebal, tidak saja berguna untuk mengorganisir barang-barang bawaan kita di dalam backpack, tapi juga akan membuat semuanya jadi lebih bersih dan kering.
Yang terakhir, selalu usahakan untuk memberi label ransel kita dengan nama dan alamat kita tertulis di atasnya. Sering sekali ada backpacker dengan ransel persis sama dengan yang kita punya. Kalau sampai tertukar di bandara... Anda tak ingin kehilangan pernak-pernik yang sengaja Anda bawa untuk mengingatkan pada orang-orang terkasih di rumah, bukan?

Transportasi (Asia)

Seiring menjamurnya trend penerbangan murah dewasa ini, pesawat sama sekali bukanlah moda transportasi yang ditabukan oleh para backpacker. Dalam beberapa kasus, menggunakan pesawat untuk perjalanan lintas negara bisa jadi lebih murah disbanding bila kita nekat menempuh perjalanan darat.So, selalu carilah informasi sebanyak-banyaknya mengenai penebangan murah untuk bisa mencapai tempat tujuan wisata kita. Karena – misalnya – perjalanan darat dari Thailand ke India atau Nepal melewati Myanmar sama sekali bukan ide yang menarik. Kecuali jika anda pernah menjadi anggota pasukan khusus.


Di beberapa Negara Asia yang relatif mapan secara ekonomi, perjalanan darat – domestik maupun internasional – akan sangat menyenangkan. Jaringan KA dan bis, baik dalam maupun antar kota, bahkan negara, dikelola dengan baik, bersih, dan teratur. Praktik percaloan nyaris nihil. Kita selalu mendapatkan pelayanan sesuai dengan yang kita bayarkan. Untuk kawasan Asia Tenggara, kita bisa menyebut negara-negara seperti Singapore, Malaysia, dan belakangan Thailand. Indonesia dan Vietnam sedang berusaha keras kearah sana, walaupun harus diakui keadaan sekarang – kabarnya – relatif lebih baik ketimbang satu dasawarsa lalu.

Untuk kawasan Asia Selatan, keadannya bisa dibilang sangat tertinggal. Kondisinya akan jadi mirip neraka jika kita melakukan perjalanan wisata di sana selama musim mudik hari besar keagamaan. Jangan kaget melihat KA yang dijubeli manusia hingga ke atap dan bagian depan lokomotifnya (di Indonesia juga ada sih, cuman yang ini jauh lebih parah). Sementara para pengelola bus dan moda transportasi jalan raya lainnya, seperti lebih konsern pada penampilan fisik dan audio ketimbang kelaikan jalan kendaraan mereka (juga jauh lebih parah ketimbang Indonesia). Bayangkan, di abad ke-21 ini masih ada bis Junga di Pakistan dengan trayek Karakoram Highway yang terkenal maut itu, aslinya adalah truk Bedford tahun 50-an! Jadi... pliiis, jangan mimpi tentang kenyamanan bertransportasi darat di sana.

Transportasi laut. Hmm.... Sebagai negara kepulauan jaringan transportasi laut di Indonesia memang terkesan lebih beragam dari negara-negara daratan. Untuk pelayaran antar pulau, kapal-kapal Pelni masih bisa diandalkan. Bahkan dek kelas ekonomi pun ber-AC, dan memiliki kran-kran air panas yang bisa kita gunakan untk menyeduh kopi dn mie instan.

Sementara kondisi pelayaran penyeberangan (ASDP) keadaannya masih lebih baik ketimbang di Filipina atau negara-negara Pasifik Selatan. Terutama feri-feri yang melayari Merak-Bakauheni atau Padang Bai-Lembar. Jangan bandingkan dengan feri-feri Laut Utara, tentu saja (suatu saat saya berharap bisa merasakan pelayaran di sana).

Secara umum, tak ada kendala transportasi yang berarti untuk backpacking melintasi Asia. Rentang variabelnya memang jadi sangat beragam dan lebar. Dari yang paling nyaman dan mahal seperti di Jepang atau Korea Selatan, sampai yang relatif murah namun bisa disebut sampai pada taraf ’horor’ seperti di kawasan Asia Selatan. Bagaimana kondisi spesifiknya? Dalam entri-entri berikutnya Insya Allah saya akan menuliskannya lebih detil.

posted from Bloggeroid

Bacpakers Juga harus jaga Sikap dan Penampilan !

Jika ingin acara backpacking kita lancar, penampilan diri kita harus jadi perhatian khusus. Ini bukan masalah sepele. Terlebih bagi kita yang berasal timur.

Hampir di seluruh Asia, khususnya jika harus berurusan dengan pihak berwenang setempat, penampilan lusuh seperti hipis, dandanan aneh, dan segala macam bentuk penampilan nyeleneh sangat tidak disukai. Saya ulangi: Sangat tidak disukai! Kita tidak mau merepotkan diri sendiri di /kampung/ negeri orang hanya karena menurutkan apa yang kita pikir sebagai ’ kebebasan berekspresi’, bukan?

Jika kita mendatangi Kedutaan Besar atau Konsulat untuk mengurus visa (bahkan Kedubes atau Konsulat Amerika Serikat sekalipun), di gerbang perbatasan antar negara, atau di tempat-tempat publik lain, segala urusan akan selalu lebih mudah jika kita berpenampilan rapi dan sepatutnya. Tak peduli atas nama mode atau kenyamanan, mengenakan celana jeans belel yang dipotong pendek ala kadarnya, singlet, atau bersandal jepit sama sekali tidak disarankan saat kita berurusan dengan tempat-tempat di atas. Itulah kenapa selalu disarankan untuk membawa pakaian yang agak resmi. Walaupun itu hanya kemeja polos dan pantalon sederhana.

Di beberapa negara Asia Selatan, banyak backpacker melaporkan bahwa berurusan dengan petugas berwenang setempat kadang akan menjadi urusan panjang bertele-tele, dan menyebalkan. Dalam situasi inilah kesabaran kita diuji. Kita harus selalu mengingatkan diri untuk tetap bersikap cool. Tak peduli seberapa menjengkelkan dan sok kuasanya Inspektur Vijay atau Tuan Takur yang kita temui. Menanggapinya dengan keras, sangat tidak produktif. Selalu katakan pada diri Anda, mereka hanyalah manusia-manusia malang yang berusaha keras menutupi kelemahan dengan memainkan peran who’s the boss’. Tetaplah berusaha menghadapi mereka sekalem mungkin, bahkan jika Anda yakin bahwa Anda dalam posisi benar dan mereka salah. Kalau mungkin, tnjukkan pula rasa simpati Anda pada orang-orang yang hampir pasti mempunyai kehidupan yang amat membosankan tersebut. Satu hal yang sudah pasti, keramah-tamahan, kesopanan, dan kemampuan kita menjaga tempramen akan membuat perjalanan kita senantiasa mudah.

posted from Bloggeroid

Mereka bukan Gelandangan

Meski sering terlihat di tempat-tempat umum, khususnya di terminal bis, stasiun KA, atau bandara dengan wajah kuyu, dan terkadang duduk menggelesot bahkan terlelap di lantai, para backpackers sama sekali bukanlah gelandangan. Tak ada niat sama sekali untuk menggelandang dan mengotori ruang publik.


Yang mereka lakukan memang hanya sekedar nongkrong atau beristirahat untuk menunggu keberangkatan moda transportasi yang akan membawa mereka ke tempat tujuan berikutnya.

Untuk orang normal, mungkin aneh melihat aksi para backpackers. Berjalan kemana-mana sambil bawa tas besar dipunggungnya. Apa enaknya coba? Liburan kan untuk bersenang-senang, ngapain susah?
Mungkin saat mereka melintas di depan mata, kita akan berpikir betapa berat beban yang mereka bawa, betapa repot cara yang mereka jalani hanya sekedar untuk berwisata. Kadang muncul pula pikiran bagaimana bisa melakukan perjalanan jauh hanya berbekal tas besar itu.

Asyik jadi backpacker. Begitu kata mereka. Bebas berwisata, kemana-mana tanpa terikat jadwal ketat seperti yang diterapkan para operator perjalanan wisata. Tapi jangan salah, backpacker itu bukan orang asal jalan tanpa tujuan. Mereka punya persiapan dengan mempelajari semua tentang tempat-tempat tujuan mereka.

Jadi backpacker juga banyak manfaatnya. Selain bisa lebih membumi dan lebih mengenal tempat-tempat yang didatangi, kita juga bisa mengasah feeling saat berada di tempat asing, melatih kemampuan adaptasi dan mental, serta mendapat berbagai ilmu baru, misalnya saja bahasa atau tradisi setempat.

Hal-hal yang perlu diperhatikan para backpackers antara lain: Menentukan opsi destinasi, tentukan apa yang akan kita lakukan disana, kenali daerah tujuan, bawa barang secukupnya, misalnya makanan, kompas, kantung tidur dan tenda (untuk keadaan darurat), serta pakaian yang sesuai dengan musim di tempat tersebut, amati moda transportasi, tentukan rute, waspada dengan bahaya, cek travel dokumen, cari tahu penginapan atau tempat untuk berteduh, dan yang terakhir, selalu siaga dengan apa yang tidak diharapkan, selalu siapkan rencana cadangan.

Dalam perjalanannya, backpackers punya beberapa hal yang jadi pantangan a.l: Jangan membawa barang yang tidak diperlukan, jangan terlihat 'asing' di tempat baru dan hindari banyak pertanyaan kepada orang asing.

posted from Bloggeroid

Mengepak Ransel

Saat backpacking, perjalanan yang kita lakukan memang akan lebih banyak berada di dalam kendaraan umum. Tak seperti mendaki gunung, dimana kita bisa seharian berjalan kaki dengan ransel besar di punggung, dalam backpacking, waktu kita paling lama menyandang backpack atau ransel adalah saat berburu tempat penginapan. Jika kita beruntung, hitungannya waktunya paling hanya menit. Sesial-sialnya hunting penginapan saat peak season, kita masih bisa lebih sering menurunkan ransel dari pungung, ketimbang dalam acara mendaki gunung.

Kenyamanan menyandang ransel,selain ditentukan oleh bagaimana kita mengepaskan back-system dengan bentuk tubuh kita, juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana pengepakan barang-barang di dalamnya. Sekali lagi, walau barang yang kita bawa tak akan seberat saat kita mendaki gunung, tetap saja punggung kita akan dibebani oleh beban yang tak biasa kita sandang sehari-hari. Selain itu, seorang backpacker biasanya sudah mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi dalam perjalanannya. Tenda, bahan makanan, bahkan peralatan memasak, seringkali ditambahkan dalam daftar barang bawaan atas nama antisipasi kemungkinan terburuk di tengah perjalanan. Hasilnya sudah jelas. Beban yang kita bawa jadi membengkak.
Berikut ini ada beberapa prinsip dalam mengepak, sehingga backpack atau ransel kita selain nyaman disandang, juga akan elok dipandang:
1. Letakkan barang yang berat di bagian atas, dan bagian yang ringan di bagian bawah. Ini penting dilakukan agar seluruh beban jatuh di pundak, bbukan pinggang atau punggung. Pundak lebih kuat ketimbang pinggang atau punggung. Bagilah beban itu secara merata. Jangan menyiksa salah satu bahu dengan berat yang tak seimbang. Jika membawa tenda, bolehlah diletakkan di bagian paling atas, karena memang biasanya paling berat. Letakkan sleeping bag, dan perlengkapan tidur di bagian paling bawah, sebab baru akan digunakan pada malam hari.
2. Letakkan barang-barang yang nantinya akan paling sering keluar masuk, atau paling dibutuhkan di perjalanan di kantong-kantong luar backpack yang mudah dijangkau. Alangkah baiknya kalau kita membawanya di tempat terpisah – baik dengan daypack atau tas pinggang – bersama barang-barang berharga yang harus selalu kita bawa kemana pun pergi. Sedapat mungkin kelompokkan barang menurut fungsinya, lalu kita letakkan bersama-sama menurut tingkat kebutuhannya. Dalam hal ini travel pack akan lebih memperingan kerja kita, karena biasanya bagian dalam travel pack sudah mempunyai ruang-ruang sedemikian rupa sehingga kita bisa mengatur penempatan barang bawaan dengan lebih rapi.
3. Manfaatkan ruangan yang ada di dalam ransel sefisien mungkin. Maksudnya, jika kita membawa travel mug, jagan biarakan ruangan didalamnya kosong. Isilah dengan benda-benda kecil yang mungkin masuk, bungkusan berisi gula atau kopi instan, misalnya. Sebisa mungkin pisahkan ruang dalam ransel yang memuat bahan makanan dan pakaian. Teh yang terkontaminasi bau pengharum pakaian kita akan sangat tidak enak, bukan?

Bagaimana karakter seorang backpacker sering bisa dilihat ransel yang ia bawa. Bagaimana seorang backpacker mengepak barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam ransel sehingga bentuk ransel itu rapih dan bagus, akan mencerminkan kepribadian yang matang dari sang backpacker. Jadi, ransel dengan bentuk kacau, meletot kesana-kemarikarena dipak secara serampangan akan memberikan penilaian ’kurang’ buat pemiliknya. Apalagi bila ransel itu digantungi berbagai macam benda, sementara ransel itu sendiri masih terlihat kempes. Ransel yang digantungi sepatu, peralatan memasak, atau botol air, adalah sebah pemandangan yang menggelikan. Lagipula semua gantungan itu kemungkinan besar akan tersangkut-sangkut jika diletakkan di bagasi bus, misalnya. Sesuatu yang amat mengganggu, bisa merusak, kalau tidak boleh dibilang berbahaya.

Mengepak adalah suatu seni. Ini kata para backpacker berpengalaman.

posted from Bloggeroid

Minggu, 12 Mei 2013

Keindahan Kota Bandung Yang Jarang Di Kunjungi


1. Museum Konferensi Asia Afrika
              
2. Taman Ade Irma Suryani Nasution (Taman Lalu Lintas)
    
3. Alun-alun dan Masjid Agung
   
4. Museum Sri Baduga
     
5. Pemandian Air Panas Walini
    
6. Wisata Petik Strawbery
   
7. Penangkaran Rusa Ranca Upas
          
8. Telaga/Situ Patengan Ciwidey
     
9. Situs Legenda Ciung Wanara – Karangkamulyan
       
10.  Taman Hutan Jaya Giri – Lembang
    
11.  Kawah Ratu – Gunung Tangkuban Parahu
        
12. Puspa Iptek Kota Baru Parahyangan – Padalarang
   
Sekian dulu info Tempat Wisata di Kota Bandung. Semoga kalian menikmati.. ^^
 

inigece Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang