Backpack, atau tas punggung, atau lebih umum lagi disebut sebagai ‘ransel’, dengan berbagai bentuknya dewasa ini memang semakin umum digunakan oleh para pelancong di seluruh dunia. Awalnya mungkn hanya untuk kepraktisan saja, lantaran dengan menggunakan backpack sebagai tempat barang-barang bawaan kita, kedua tangan kita akan bebas bergerak. Bayangkan jika kita harus berjalan-jalan di tengah keramaian Malioboro, atau menyusuri gang-gang di Kuta dengan menenteng tas jinjing.
Bahkan jika disbanding dengan tas bahu (tas yang dicangklongkan di salah satu bahu), backpack jauh terasa lebih nyaman; dengan backpack, beban barang bawaan yang kita sandang di bahu akan lebih merata.
Mungkin satu-satunya yang bisa menyaingi kepraktisan dan kenyamanan backpack mungkin hanya tas pinggang (bum bag). Tapi masalahnya, kapasitas tas pnggang memang amat terbatas – rata-rata kurang dari lima belas liter volume. Bandingkan dengan backpack yang bisa berkapasitas sampai seratus liter.
Backpack mulanya memang bagian dari perlengkapan mendaki gunung, camping, atau kegiatan alam bebas lain. Namun sejak menjamurnya para pelancong dengan gaya hidup hipis, backpack jadi popular di kalangan para earth walker yang bepergian semau mereka, tanpa terikat waktu dan jadwal sebagaimana lazimnya pelancong yang bepergian menggunakan jasa biro perjalanan wisata. Itulah kenapa sempat muncul anggapan bahwa para turis ransel (backpacker) sama dengan hipis, dan hipis identik dengan turis ransel: Pelancong bebas berpenampilan lusuh yang bepergian semau mereka dengan dana minim dan waktu selama mungkin. Faktanya memang demikian.
Syukurlah anggapan dan fakta di atas sudah semakin pudar. Saat ini backpacking alias turisme ransel sudah menjadi cara berwisata yang tak lagi didominasi para pelancong berkatong tipis, namun juga dari kalangan mapan yang ingin merasakan bebasnya berwisata tanpa terikat jadwal dan aturan biro perjalanan.
Semangat backpacking memang masih sama. Bedanya, kini semangat kebebasan berwisata itu sekarang didukung oleh dana lebih tebal dan penampilan para pelakunya yang jauh lebih modis.
Demikian pula dengan backpack sebagai elemen utama dalam turisme ransel alias backpacking. Kalo jaman backpacker hipis mereka biasanya menggunakan backpack surplus Perang Vietnam, Korea, bahkan Perang Dunia II yang terbuat dari kanvas yang berat, kini backpack para turis ransel jauh terlihat lebih trendi. Terbuat dari nilon berwarna-warni dengan daya tahan tnggi namun ringan, ditambah dengan desain ergonomis berteknologi tinggi yang sanggup mereduksi beban berat yang dirasakan penggunanya. Bisa demikian karena mayoritas backpack yang digunakan para backpacker sejatinya memang diperuntukkan buat mendaki gunung atau menjelajah alam bermedan berat – kendati kurang lebih dua dasawarsa terakhir backpack yang dirancang khusus untuk traveling juga sudah diciptakan. Dengan teknologi yang teknologi, bahan dan model yang tak kalah canggih, kuat, dan trendi pula.
Berikut ini adalah beberapa macam backpack yang lazim digunakan dalam kegiatan backpacking:
Trekking/Tramping/Adventure Pack
Sejatinya didesain untuk kegiatan petualangan (mendaki gunung, lintas alam). Modelnya memang paling umum. Backpacker suka menggunakannya karena kepraktisan dan kenyamanan saat dipakai, di samping daya tampungnya yang punya rentang lebar (antara 40 s/d 100 liter) membuat semua barang keperluan untuk perjalanan dalam waktu lama bisa terbawa. Pertimbangan lainnya ialah, tak jarang para backpacker juga menyempatkan diri/harus melakukan perjalanan di alam bebas dalam acara backpackingnya. Dengan back-system yang terdiri dari sabuk penggendong dan pinggang berbantalan, serta rangka terbuat dari logam ringan namun kuat berlapis busa dan kain khusus yang diklaim bsa ‘bernapas’, sanggup menolong para penggunanya dari kelelahan akibat membawa beban berat di medan yang berat pula.
Kelemahan dari model backpack ini ialah sisi keamanannya yang boleh dibilang minim saat dibawa berkendaraan umum. Belakangan gembok memang lazim digunakan untuk mengamankan barang-barang berharga yang tersimpan di sejumlah kantong beresluiting. Namun sejumlah straps penutup dan sabuk-sabuknya gampang sekali tersangkut di dalam bagasi pesawat atau bis yang tak jarang berujung dengan kerusakan backpack itu sendiri.
Kelemahan yang kedua, walau tak fatal namun seringkali mengganggu ialah, bentuknya yang hanya berupa menyerupai kantong membuat barang-barang bawaan tak terorganisir dengan baik.
Travel Pack

Inilah backpack yang memang dirancang untuk melancong. Bentuk awalnya memang sangat menggelikan: seperti koper yang dilengkapi dengan sabuk penggendong seperti umumnya backpack. Belakangan, semakin ke sini, bentuk dan teknologi back system sudah semakin baik. Kini banyak produsen yang merancang bentuk travel pack mereka mirip trekking pack, namun dengan jerohan seperti koper yang memungkinkan penggunanya mengorganisir barang bawaan mereka dengan lebih rapih: pakaian tak lagi mudah kusut, tercampur antara yang bersih dengan yang kotor dll.
Demikian pula dengan back systemnya. Teknologi yang digunakan nyaris, bahkan persis sama dengan backpack untuk berpetualang. Ditambah dengan back system yang bisa disembunyikan, membuat sabuk-sabuknya jadi lebih aman saat dibawa berkendaraan umum. Uniknya lagi, saat back system-nya disembunyikan, travel pack akan berubah bentuk menjadi travel shoulder bag. Beberapa travel pack terbaru bahkan diilengkapi roda yang juga bisa disembunyikan untuk kenyamanan saat dibawa di bandara atau stasiun kereta api.
Kelemahan dari jenis backpack ini adalah dengan segala kelebihan dan keunikannya, membuat harganya relatif jadi lebih mahal ketimbang trekking pack. Kira-kira satu decade lalu, para pereview peralatan petualangan memberi penilaian backpack jenis ini tak seberapa cocok dipakai berpetualangan di alam bebas, membawa beban berat, atau berjalan dalam waktu lama. Namun dengan semakin majunya teknologi bahan dan back system, penilaian tersebut jadi tak beralasan.
Kalau ada kontes jenis backpack yang paling popular, pasti backpack alias ransel inilah pemenangnya. Ya. Daypack, seperti namanya memang jenis tas punggung yang biasa dipakai untuk keperluan sehari-hari.
Sebagai tempat buku anak sekolah sampai untuk membawa laptop (meski akhir-akhir ini muncul ransel khusus untuk laptop ), digunakan oleh anak-anak TK sampai para pegawai kantor.
Daypack
Dengan bentuk dan ukuran yang kompak (tak lebih dari 25 liter), tak ada manusia masa kini yang tak memanfaatkan daypack sebagai bagian dari kegiatan sehari-hari mereka. Para backpacker menggunakan daypack saat mereka berkeliling kota atau tempat-tempat wisata. Sementara travel pack/tramping pack ‘beristirahat’ di kamar penginapan, cukuplah daypack sebagai sarana untuk membawa barang-barang keperluan selama melihat-lihat keramaian kota atau menikmati suasana obyek wisata, seperti kamera, buku petunjuk wisata, peta, makanan kecil, bahkan uang saku. Repot juga bukan, kalau harus berkeliling Borobudur, atau berjalan-jalan di sepanjang Pantai Senggi dengan membawa semua barang bawaan kita dalam backpack berukuran 75 liter?
Sebagai jenis backpack yang secara fungsonal tidak spesifik, sulit untuk mencari kelebihan atau kekurangan antara daypack dari satu merek dengan merek yang lain. Apalagi para pengguna juga kelihatannya tak terlalu pilih-pilih dalam membeli backpack jenis ini. Kalaupun ada fitur-fitur yang muncul belakangan di merek-merek terkenal, paling hanya sebatas lubang untuk selang water bladder (kantong air minum) atau kabel headphone – beberapa jenis kadang menambahkan kantong laptop berbantalan. Tak usah terlalu memusingkan back system. Berapa berat sih, beban yang akan kita bawa di dalam backpack?
Hydration Pack
Jenis terakhir sekaligus paling baru yang akhir-akhir ini popular di kalangan backpacker.
Saat merasakan daypack terlalu besar untuk sekedar tempat botol air minum dan beberapa benda kecil seperti kunci-kunci dan kamera poket, jenis backpack berpotongan ramping inilah yang jadi pilihan para backpacker sebagai teman berkeliling kota/obyek wisata.
Pertama kali dipopulerkan oleh para tentara yang tak mau repot-repot meletakkan senjata untuk minum dari veldples, mereka cukup menggerakkan satu tangan untuk minum lewat seutas selang dari water bladder di dalam hydration pack. Dengan alasan tak mau berhenti untuk minum dari botol air, para mountain biker dan pelari lintas alam adalah pengguna berikutnya. Apalagi rata-rata hydration pack bisa menampung kantong air berkapasitas dua sampai tiga liter, atau setara nyaris dua kali botol air mineral ukuran paling besar yang dijual di pasaran.
Selain keempat jenis backpack di atas, sebenarnya masih ada beberapa jenis backpack lain. Namun karena fungsinya yang sangat spesifik dan biasanya digunakan oleh para professional di bidangnya masing-masing, jenis-jenis backpack tersebut jarang sekali digunakan oleh kebanyakan backpacker. Jadi saya pun merasa tak perlu mengulasnya lebih jauh. Jenis-jenis backpack tersebut adalah: climbing pack, expedition pack, camera backpack, medical kit pack, dan beberapa jenis untuk membawa peralatan mekanis/pertukangan yang sama sekali tak bersentuhan dengan kegiatan backpacking.
0 komentar:
Posting Komentar